[ X ] Close


dikemanakan 2.25 M dari FIFA untuk PSSI ? inijawabnya

Indonesia negara dengan jumlah penduduk yang amat besar selalu menjadi target market yang bagus untuk acara olah raga sepakbola. kemarin di kompas, saya membaca berita yang semakin membuat saya mengelus dada terhadap PSSI, yang tidak juga menunjukkan upaya yang bagus untuk kemajuan sepakbola indonesia, justru sebaliknya

Ke Mana Rp 2,25 Miliar Itu?


Senin, 12/7/2010 | 09:25 WIB

KOMPAS.com — Piala Dunia 2010 berakhir dengan digelarnya laga final Belanda versus Spanyol di Soccer City, Johannesburg, Senin (12/7/2010) dini hari WIB. Pertanyaannya: apa yang bisa dipetik dari perhelatan akbar sepak bola sebulan penuh tersebut, terutama bagi sepak bola Tanah Air? Itu pertanyaan bagi seluruh pemangku kepentingan sepak bola nasional, terutama bagi PSSI.

Sebulan penuh sudah, publik sepak bola di Tanah Air mendapat suguhan dan tontonan sepak bola level tinggi oleh 32 tim Piala Dunia 2010. Ada hal negatif yang tidak perlu dicontoh, tetapi banyak hal positif yang patut diteladani.

Sempat diragukan di awal, Afrika Selatan secara keseluruhan menjawab secara konkret dengan sukses menggelar ajang olahraga paling digemari itu.

Suara-suara pesimistis yang dulu terdengar kini berubah menjadi pujian. ”Saya melihat sendiri, turnamen ini diselenggarakan luar biasa, atmosfernya juga hebat. Setelah datang sendiri, harus saya katakan, Afrika Selatan pasti bangga (dengan hal ini),” kata Angela Merkel, Kanselir Jerman, pada situs FIFA.

Perempuan penggila sepak bola itu hadir, menonton langsung, dan menari kegirangan di tribune saat Jerman menggilas Argentina 4-0 pada perempat final. Sabtu (10/7/2010), Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma berpidato yang disiarkan stasiun-stasiun televisi lokal bahwa ”Kesuksesan Piala Dunia 2010 ini kemenangan bagi Afrika”.

Tonik bagi Blatter

Kesuksesan penyelenggaraan Piala Dunia 2010 pasti mendongkrak posisi Presiden FIFA Sepp Blatter, yang dari awal mengotot menggelar Piala Dunia di Afrika meski ditentang sana-sini. Masa jabatan Blatter selaku Presiden FIFA bakal berakhir pada 2011, dan ia secara terbuka menyatakan akan mencalonkan diri lagi untuk empat tahun berikutnya.

Hal itu ditegaskan kembali pada Kongres FIFA di Sandton, Johannesburg, menjelang Piala Dunia, Juni lalu. Seperti halnya presiden atau ketua asosiasi-asosiasi sepak bola seluruh dunia dan presiden konfederasi, masa jabatan Presiden FIFA empat tahun dan setelah habis masa jabatan itu, ia bisa dipilih berulang-ulang tanpa batas waktu.

Waktu itu pernyataan terbuka Blatter disambut tepuk tangan meriah 208 utusan asosiasi anggota FIFA. Namanya juga punya maksud, setelah mengumumkan keuntungan finansial badan sepak bola dunia tahun lalu sebesar lebih dari 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 9 triliun), Blatter pun membagi-bagikan bonus 250.000 dollar AS (sekitar Rp 2,25 miliar) bagi setiap asosiasi anggota FIFA dan 50 juta dollar AS bagi enam konfederasi di bawah FIFA.

PSSI juga hadir dalam kongres itu, diwakili Ketua Umum Nurdin Halid dan pengurus lainnya. Seperti para wakil asosiasi lainnya, PSSI juga kecipratan bonus Rp 2,25 miliar. Namun, perlu dicatat, kucuran uang FIFA itu bukanlah bonus bagi pengurus PSSI, melainkan dana yang dimaksudkan FIFA untuk pengembangan sepak bola.

Pelesir pengurus PSSI

Senin (5/7/2010), kurang dari sebulan setelah Blatter mengumumkan pencairan bonus Rp 2,25 miliar untuk para asosiasi, puluhan pengurus teras PSSI pusat dan daerah terbang dan pelesir ke Afrika Selatan. Seperti dikutip Kompas.com, mereka berjumlah 60 orang. Mereka dijadwalkan menyaksikan laga semifinal dan final Piala Dunia 2010.

Setiap orang diperkirakan menghabiskan biaya sekitar Rp 75 juta, meliputi uang saku, penginapan, tiket, dan akomodasi. Dari mana uang untuk membiayai keberangkatan mereka ke Afrika Selatan? Seperti biasa, tidak ada keterangan yang jelas. Sebagian dari mereka terlihat di Cape Town saat semifinal Belanda versus Uruguay berlangsung.

Saat disinggung puluhan pengurus PSSI pusat dan daerah yang pelesir ke Afrika Selatan itu, anggota Komite Eksekutif PSSI, Bernhard Limbong, dikutip kantor berita Antara, Selasa (6/7/2010), menyebutkan bahwa hal itu sedikit hura-hura saja, tetapi itu juga hak mereka untuk ke sana. ”Saya memang tidak ikut ke Afrika Selatan,” kata Limbong.

Gaya hidup pengurus PSSI itu sangat ironis jika melihat kondisi persepakbolaan Tanah Air akhir-akhir ini. Bukan hanya paceklik prestasi di ajang internasional, pengelolaan keuangan PSSI juga kacau dan tidak jelas. Pelesir para pengurus PSSI itu memprihatinkan jika mengingat bahwa gaji tim nasional futsal yang mengharumkan bangsa Indonesia sebagai juara ASEAN belum dibayar.

Inikah pelajaran dari Piala Dunia 2010 untuk sepak bola Indonesia? Menyedihkan! (MH SAMSUL HADI, dari Johannesburg, Afrika Selatan)

0 komentar

Posting Komentar